Salam Perkenalan nama saya Irwan, saya di sini belajar untuk membuat blogger tentang Hiburan Sehari hari, entah itu di bidang Musik, Video dan lain lain.
Kalau ada yang kurang berkenan mohon di maafkan.
Untuk itu saya mohon bimbingannya dari para master-master sekalian untuk
kerjasamanya dan serta membantu saya agar dapat merasakan manfaat di BLOGGER.
Demikian sedikit salam perkenalan dari saya, mohon maaf apabila ada
kata-kata yang kurang berkenan bagi para master disini, terimakasih
Nama : Irwan
Lahir : Jakarta Selatan
Moto : Tetap Belajar Yg Lebih Baik
Facebook : Agku Ithoe Irwan
Moto : "Belajar Untuk Maju"
Bismillahir Rahmanir Rahiim

Seorang muslim hendaknya melihat segala sesuatu yang telah diberikan
Allah kepadanya dengan tiada terhingga, yakni berupa nikmat yang tidak
terhitung, terlindungnya dia pada saat menempel di dalam rahim ibunya
ketika berupa nuthfah (air mani), menentukan perjalanan hidupnya, hingga
hari bertemu dengan Rabb-nya azza wa Jalla. Maka hendaknya ia bersyukur
kepada Allah atas nikmat itu dengan lisannya, yakni memuji dan
menyanjung-Nya dengan semestinya. Juga bersyukur kepada Allah dengan
anggota badan, dengan cara menggunakannya di dalam ketaatan kepada Allah
Azza wa Jalla. Maka tidaklah punya adab orang yang mengingkari nikmat,
tidak mengakui kelebihan yang diberikan Allah, mengingkari-Nya beserta
kebaikan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah
(datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya
kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53)
Juga firman-Nya:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat
menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (An-Nahl: 18)
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,
dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
(Al-Baqarah: 152)
Seorang muslim juga hendaknya melihat apa yang dilakukan oleh Allah,
bagaimana Dia memperhatikan seluruh tindak tanduknya sehingga hati akan
dipenuhi dengan keagungan-Nya, jiwanya tunduk dan selalu
mengagungkan-Nya. Maka dia
akan takut bermaksiat kepada-Nya, malu untuk menyelisihi perintah-Nya dan keluar dari ketaatan kepada-Nya.
Ini semua merupakan adab terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga
tidaklah memiliki adab (kepada-Nya) seorang hamba yang terang-terangan
bermaksiat kepada Rabb-nya, atau menghadap kepada-Nya dengan berbagai
keburukan dan perilaku rendahan padahal Dia menyaksikan dan melihatnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;:
مَا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia
sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.”
(Nuh: 13-14)
وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ
“Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan.” (An-Nahl: 19)
وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلا
تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ
فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الأرْضِ
وَلا فِي السَّمَاءِ
“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari
Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami
menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari
pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di
langit.” (Yunus: 61)
Seorang muslim harus memandang bahwa Allah adalah berkuasa atasnya,
Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya) dan bahwasanya tidak
ada tempat berlindung dan lari dari-Nya kecuali hanya kepada-Nya semata.
Maka hendaknya ia lari menuju Allah, menghambur ke hadapan-Nya,
menyerahkan seluruh urusan hanya kepada-Nya, bertawakkal kepada-Nya. Ini
semua merupakan adab kepada Rabb dan penciptanya.
Oleh karena itu, tidaklah beradab jika seseorang lari kepada sesuatu
yang tida punya tempat pelarian, bersandar kepada yang tidak memiliki
kemampuan apapun serta bertawakkal kepada yang tidak memiliki daya upaya
dan kekuatan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا
“Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada
suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang
ubun-ubunnya.” (Hud: 56)
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ
“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang
pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” ( Adz-Dzariyat: 50)
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (Al-Maaiidah: 23)
Seorang muslim juga harus melihat kepada kelemahlembutan Allah
kepadanya di dalam setiap urusannya, melihat kepada kasih sayang Allah
kepada dirinya dan seluruh makhluk-Nya, lalu berkeinginan yang kuat
untuk mendapatkan tambahan kelembutan dan kasih sayang itu. Sehingga
dirinya akan selalu merendahkan diri kepada-Nya dengan kerendahan yang
murni dan dengan do’a, bertawasul kepada-Nya dengan perkataan yang baik
dan amal shalih.
Ini semua merupakan adab terhadap Allah yang menguasainya, maka
dikatakan tidak memiliki adab orang yang berputus asa dari mencari
tambahan rahmat-Nya, yang luasnya meliputi segala sesuatu, berputus asa
dari kebaikan Allah yang tak terhingga yang mencakup seluruh alam
semesta serta kelembutan-Nya yang tercurah untuk segenap makhluk.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al-A’raaf: 156)
اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ
“Allah Maha Lembut terhadap hamba-hambay-Nya.” (Asy-Syura: 19)
وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ
” Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Yusuf: 87)
لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Az-Zumar: 53)
Seorang muslim harus melihat bagaimana dahsyatnya siksaan Rabb-nya,
kerasnya adzab dan kecepatan-Nya di dalam menghitung, sehingga dia
bertakwa (takut) kepada-Nya, menjaga diri terhadap-Nya serta
meninggalkan segala kemaksiatan, maka ini pun merupakan bentuk adab
kepada Allah. Sehingga tidaklah seseorang itu beradab menurut orang yang
berakal apabila ia menentang Allah dan berlaku aniaya (zhalim), padahal
ia seorang hamba yang lemah nnamun justru menentang Rabb yang Maha
Perkasa dan Kuasa, Maha Kuat dan Perkasa.
Dia telah berfirman:
وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
“Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak
ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi
mereka selain Dia.” (Ar-Ra’d: 11)
إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya adzab Rabb-mu benar-benar keras.” (Al-Buruj: 12)
وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ
” Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (Ali-’Imran: 4)
Seorang muslim harus memandang Allah Azza wa Jalla ketika ia berbuat
maksiat atau keluar dari ketaatan terhadap-Nya, bahwa seakan-akan
ancaman-Nya telah sampai kepadanya, adzab-Nya seakan telah turun, dan
balasan-Nya telah tiba di sekitarnya. Demikian pula ketika dia melakukan
ketaatan dan mengikuti syari’at-Nya maka seakan-akan Allah telah
membuktikan janji-Nya kepadanya. Seolah-olah keridhaan-Nya telah
diberikan, sehingga dengan itu jadilah ia seorang muslim yang berbaik
sangka kepada Allah. Dan baik sangka (husnuzh zhan) kepada Allah
merupakan salah satu adab seorang muslim kepada Allah. Maka bukan
merupakan adab kepada Allah jika seorangb muslim berburuk sangka (su’uzh
zhan) kepada-Nya, sehingga dia keluar dari ketaatan kepada-Nya, mengira
bahwa Allah tidak memperhatikannya serta tidak akan memberikan balasan
atas dosa yang dia kerjakan itu, padahal Allah telah berfirman:
وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا
تَعْمَلُونَ وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ
أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa
yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah
kamu sangka terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu,
maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Fushshilat: 22-23)
Juga bukan merupakan adab kepada Allah jika seseorang bertakwa kepada
Allah dan mentaatinya namun berprasangka bahwa Allah tidak akan
memberikan balasan kepadanya atas amal baik yang telah dia kerjakan itu
dan tidak memberikan pahala terhadap ketaatan dan ibadahnya, padahal
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman;
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
” Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada
Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang
mendapat kemenangan.” (An-Nuur: 52)
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ
بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan
kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan.” (An-Nahl: 97)
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ
بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى إِلا مِثْلَهَا وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ
“Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali
lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka
dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya,
sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (Al-An’aam: 160)
Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa syukurnya seorang muslim
kepada Rabb-nya atas nikmat yang diberikan, rasa malu kepada-Nya untuk
condong berbuat maksiat, kembali kepada-Nya secara benar, bertawakkal
kepada-Nya serta mengharap rahmat-Nya, kemudian takut terhadap
siksa-Nya, berbaik sangka kepada-Nya akan kebenaran janji-Nya serta
pelaksanaan ancaman bagi siapa yang dikehendaki di antara
hamba-hamba-Nya, maka ini semua merupakan adab-adab terhadap Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Semakin tinggi tingkat tamassuk (berpegang teguh) dengan adab ini dan
semakin seseorang menjaganya, maka dia akan semakin tinggi derajatnya,
makin naik kedudukannya dan terus menanjak posisinya, serta kemuliaannya
semakin besar sehingga jadilah dia termasuk di antara orang-orang yang
berada dalam wilayah (cinta dan pembelaan) Allah, dalam
pemeliharaan-Nya, diliputi rahmat-Nya, serta berhak mendapatkan
kenikmatan-kenikmatan dari Allah.
Inilah yang senantiasa didambakan oleh seorang muslim dan yang menjadi angan-angannya sepanjang hidup.
Ya Allah, berikanlah kepada kami cinta dan pembelaan-Mu, janganlah
Engkau halangi kami dari penjagaan-Mu, dan jadikanlah kami semua di
sisi-Mu sebagai al-muqarrabin (orang yang dekat dengan-Mu), ya Allah ya
Rabb seru sekalian alam.
***
Abu Muhammad Herman
[Disalin dari kitab Minhajul Muslim, karya Syaikh Abu Bakar Jabir
al-Jazairi (ahli tafsir, pengajar tafsir, penasihat, di Masjid Nabawi
Madinah). Edisi Indonesia: Minhajul Muslim, penerbit Darul Haq)